Blogger Widgets

NABI SAW HIJRAH KE THA'IF


HIJRAH KE THA'IF

  1. Sebab-sebab nabi Muhammad SAW Hijrah Ke Thaif
Mekah bagi Nabi sudah tidak aman lagi, ketika orang dicintai dan melindungi beliau telah meninggal. Abu Thalib dan Siti Khodijah yang menjadi pendukung dan tulang punggung perjuangan Nabi tidak bisa menemani kembali, tahun meninggalnya mereka merupakan tahun kesedihan bagi nabi (Umul Huzni). Kondisi yang demikian bagi kafir quraisy sangat menguntungkan karena kafir
quraisy bebas menganiaya Nabi,hampir setiap Nabi Muhammad menanggung penderitaan yang berat sekali dari sebab perlakuan yang tidak pantas . sejak itulah Nabi Muhammad merasa tidak nyaman dan berfikir hendak Hijrah ke Thaif. Karena beliau mempunyai saudara, dengan harapan dapat membantu menyebarkan agama Islam di Thaif, saudara Nabi yang berada di Thaif adalah Kinanah (Abdul Jalil), Mas’ud (Abdul Kulal), Amr bin Umair. Nabi ke Thaif ditemani Zaid bin Haritsah secara diam-diam diperkiraan Nabi, ternyata kedatangan Nabi untuk menyiarkan  agama Islam justru ditolak, bahkan mereka mengejek, mencaci dan mengusir Nabi Muhammad, betapa pedih dan perih.

  1. Hijrah Ke Thaif
Setelah Nabi menerima wahyu kedua mulailah Nabi berdakwah secara terang-terangan di Mekah. Pada awal dakwah secara terang-terangan ini Nabi mengundang para kerabat dan beberapa tokoh kaum quraisy Nabi menyampaikan ajaran inti dari agama Islam yaitu agar manusia menyembah Allah dan meninggalkan berhala dan benda-benda lainnya, namun pada saat itu Abu lahab menentang ajaran Nabi dan berjanji akan memusuhinya apabila Nabi meneruskan dakwahnya.
 Tekanan demi tekanan terus dilakkan Abu Lahab dan kaum quraisy terhadap Nabi Muhammad tetapi Alhamdulillah Nabi SAW masih tetap bertahan karena masih ada khadijah dan abu thalib. Namun sayang siti khadijah dan abu thalib tak lama kemudian meninggal.
Tahun kesepuluh dari Kenabian merupakan tahun duka bagi Nabi Muhammad saw. Dikatakan tahun duka karena kedua orang yang sangat dicintainya telah meninggal dunia. Khadijah wafat setelah 25 tahun berumah tangga dengan Rasulullah saw. Siti khadijah wafat pada usia 65 tahun. Tiga hari kemudian Abu Thalib paman yang mengasuh dan melindungi Nabi juga wafat. Mereka adalah pelindung dan pembela nabi yang sangat kuat dan di segani kafir quraisy.
Untuk menghilangkan rasa duka cita dan membuat suasana baru dalam berdakwah, maka Rasulullah pergi ke Thaif. Kota Thaif terletak di sebelah tenggara Kota Mekah, udaranya sejuk dan tanahnya subur. Kota Thaif diceritakan dalam Al Qur’an surat Azzuhruf ayat / 43 : 31
وَقَالُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنَ ٱلۡقَرۡيَتَيۡنِ عَظِيمٍ ٣١            
dan mereka berkata: "Mengapa Al Quran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?" (QS : Azzuhruf ayat /  43 : 31 )

Beliau pergi ke Thaif ditemani oleh sahabat Zaid bin Haritsah. Sesampainya di Thaif beliau langsung menemui beberapa pemuka Bani Tsaqif dan Rasulullah mengemukakan maksud kedatangannya, yaitu meminta pertolongan dari mereka untuk membantu dalam menyampaikan dakwahnya. Beliau mengajak mereka untuk memeluk agama Islam kepada mereka dengan cara yang baik sekali.
Mendengar seruan Rasulullah saw, seketika itu juga mereka marah dan mengejek Rasulullah dengan kata-kata kasar serta mengusir bahkan mereka menaburkan tanah, dan kotoran-kotoran kambing. Melihat yang demikian Rasulullah pergi meninggalkan Thaif, tetapi tetap saja orang-orang Thaif mengikuti sambil melempari batu-batu ke arah nabi.
Nabi Muhammad SAW pun berlari, dan setelah cukup jauh Nabi bersama sahabat zaid merasa kelelahan. Nabi bermaksud istirahat, di bawah pohon Nabi melepas lelah, sambil melihat luka akibat lemparan dari kaum kafir quraisy.
Pohon tersebut adalah milik Utbah dan Syaibah anak dari Rabiah, dan mereka merupakan musuh Nabi saw di Mekah. Dalam kepedihan dan kesengsaraan Nabi berdoa, tiba-tiba datang hamba sahaya membawa setangkai anggur dan memberikannya kepada Rasulullah, hamba sahaya itu bernama Addas. Setelah menerima anggur Rasulullah memakan dan membaca bismillah, mendengar bacaan itu addus merasa heran.
Rasulullah bertanya tentang asal dan agama Addas. Ia menjawab tanah asalnya adalah tempat kelahiran Nabi Yunus dan agamanya Nasrani.
Rasulullah kemudian menceritakan kisah Nabi Yunus yang tertera dalam
Al Qur’an. Mendengar itu Addas terkejut dan kagum akhirnya menyatakan diri masuk Islam.
Setelah agak lama Nabi melanjutkan perjalanan kembali ke Mekah, namun tidak langsung ke Mekah tetapi bersembunyi di Gua Hiro dan berusaha menghubungi orang-orang yang bersedia melindungi sehingga Nabi Muhammad SAW dapat kembali memasuki Mekah.

  1. Meneladani Kesabaran Nabi Muhammad dalam peristiwa Hijrah ke Thaif.
Ibu memberi tahu kesabaran nabi
 
Maskipun Nabi Muhammad mendapat perlakuam kejam dari kaum Tsaqif beliau tidak dendam,dan tidak membalas atau mencelakakan mereka bahkan mendoakan dan berharap mudah-mudahan Allah mengeluarkan dari keturunan mereka  itu orang yang menyembah kepada Allah dan tidak menyektukanNya dengan sesuatu apapun dan berdoa mudah-mudahan mereka tidak berbuat kejam lagi karena ketidaktahuan mereka.
Itulah sifat Nabi Muhammad yang sangat mulia,meskipun beliau dihina ,dicaci maki dan dimusuhi tetapi beliau tetap sabar hal ini sesuai  tercantum dalam Do’anya
اَ اللَّهُمَّ ا هْدِ قَوْ مِيْ فَأِ نَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ

Artinya :    ’’Ya Allah berikanlah petunjuk kepada kaumku,karena sesungguhnya mereka tidak tahu”



Mendengar Do’a yang diucapkan oleh Rasulullah,Maliakat Jibril berkata:
صَدَقَ مَنْ سَمَّاكَ الَرَّ وءُ فٌ رَحِيْمٌ

Artinya :       ” Benarlah orang menamakanmu sebagai orang yang berhati lembut dan penuh  dengan kasih sayang

Setelah kalian tahu kesabaran Nabi Muhammad SAW ,dapatkah kalian bersifat sabar ketika kalian mengalami musibah?
Dalam surat Albaqoroh ayat / 2 : 153 di jelaskan
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٣

Artinya :       Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
QS : Albaqoroh ayat / 2 : 153
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar